sebelumnya:
episode 1
episode 2
episode 3
“Vi…”
Suara itu… Tidak. Ini pasti halusinasiku. Tidak mungkin dia di sini. Dia tidak pernah datang di saat-saat aku membutuhkannya sebelumnya. Tidak juga sekarang. Dia pasti sudah tidak mau lagi mengenalku. Tidak mungkin dia masih menginginkanku, setelah hal nista yang menimpaku. Aku tidak boleh meragu lagi. Hanya perlu menjatuhkan diri, dan tidak akan […]
Read Full Post »
rangkaian cerita:
episode 1
episode 2
episode 4
Hari ini hari ulang tahunku. Berhari-hari aku memikirkan bagaimana caranya aku bisa menyelinap keluar rumah tanpa ketahuan Ayah atau Ibu, atau Pak Tarmo, atau Mbak suti pembantu kami. Sampai tadi malam aku belum menemukan ide. Tapi kurasa kali ini keberuntungan merestui rencanaku, dan memberi jalan yang sama sekali tidak terpikirkan.
Berbagi
Read Full Post »
rangkaian cerita:
episode 1
episode 3
episode 4
Kuingat lagi enam bulan yang lalu, tepat di hari ulang tahun Ayah, kedua orang tuaku membawaku ke rumah sakit di seberang jalan itu. Kata Ibu, pagi itu gerimis dan beku. Aku tidak tahu, aku sedang tidak sadarkan diri.
Berbagi
Read Full Post »
rangkaian cerita:
episode 2
episode 3
episode 4
Sejenak kuhentikan langkahku. Mengambil nafas, memandang sedikit mendongak ke dinding di seberang bordes tempat aku berdiri. Sebuah papan kecil di sana mengatakan padaku bahwa aku berada di lantai enam setengah. Tidak…. sebenarnya di sana tertulis angka tujuh. Tapi aku perlu naik beberapa anak tangga lagi untuk sampai di lantai tujuh.
Berbagi
Read Full Post »
aku bawa kondom di dompetku (1)
aku bawa kondom di dompetku (2)
Wid melongo memandangku.
Berbagi
Read Full Post »
*cerita sebelumnya…*
Dan begitulah. Perlahan, di setiap pertemuan, sedikit demi sedikit aku dan Wid bergerak semakin jauh. Baik aku atau dia, setiap kali selalu berliput ragu dan saling menunggu. Tapi kami bisa merasakan bahwa kami berdua sama-sama ingin, sehingga akhirnya maju juga.
Berbagi
Read Full Post »
Posted in cerbung, cerpen on Oct 29th, 2008 6 Comments »
sambungan dari ini
Keesokan harinya, aku melihat berkas yang diangkut Mbak Eva belum berubah posisi. Masih bersih juga belum ada tanda-tanda dipegang atau dibuka-buka. Aku sudah selesai dengan berkas terakhir yang kupegang kemarin sore.
Berbagi
Read Full Post »
Posted in cerbung, cerpen on Oct 28th, 2008 3 Comments »
Aku menatap deretan angka bercampur huruf dan tanda operasi yang ada di kotak formula. Setiap kode berwarna sesuai sel yang ditulis. Tapi ada lebih dari sepuluh warna sekunder yang bertumpuk-tumpuk…
Belum lagi rumus ini berkaitan antar sheet. Sheet pertama akan menjadi dasar untuk pengolahan di format sheet kedua. Jumlah total setiap kolom di kedua sheet harus […]
Read Full Post »
Posted in Bowo!, cerbung, cerpan on Oct 13th, 2008 8 Comments »
Terkait:
Bowo #1
Bowo #2
Bowo #3
Bowo #4
Bowo #5
Lobi sudah sepi. Tinggal beberapa anak semester awal yang masih setia menanti. Aku sudah selesai dari tadi, tapi aku menunggu Ranti. Dia dan Susan mendapat giliran terakhir menghadap Pak Heru.
Perasaanku tak karuan. Aku tidak tahu harus bangga atau malu dengan keputusanku yang tiba-tiba terlintas ketika tadi melihat Ranti lagi. […]
Read Full Post »
Posted in Bowo!, cerbung, cerpan on Oct 6th, 2008 9 Comments »
Terkait:
Bowo #1
Bowo #2
Bowo #3
Bowo #4
Bowo #6
Siang itu lobi lantai tiga di depan ruang dosen terasa seperti ruang tunggu dukun alternatif yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Kursi yang dipasang sepanjang dinding di kanan kiri lobi penuh. Di sekitarnya, setiap celah dinding disandari mahasiswa. Masih belum cukup, beberapa orang luber duduk dan bersandar di tangga. Membawa […]
Read Full Post »