enak jadi orang amerika — kata Ibit.
Sep 1st, 2009 by La
Dill ngotot manggil aku ‘mbak’. Aku sudah bilang padanya supaya panggil nama aja. Umur kita kan sama, kebetulan aja aku kelas empat dan Dill kelas tiga.
Di Amerika kayanya semua orang panggil nama. Bahkan ke orang yang lebih tua, tidak harus pakai om atau tante, tapi tetap menghormati.
*****
Lha iya. Dulu jaman cilikan, semua teman sebaya manggil aku ‘dik’ karena badanku kecil. Tapi aku ogah panggil mereka ‘mbak’ atau ‘mas’. Wong kita seumuran. Jadi aku panggil nama aja, dan ternyata nyaman-nyaman saja tuh.
Lebih rumit lagi di daerah Solo dan sekitarnya (atau di daerah lain juga seperti ini?). Anak dari pakdhe dianggap lebih tua, harus dipanggil ‘mbak’ atau ‘mas’. Anak dari adiknya simbah, jatuhnya jadi ‘adik’ nya Bapak, jadi harus dipanggil Pak Lik atau Bulik. Semua diurutkan begitu, bahkan sampai ke cucu adiknya simbah, harus panggil kita ‘mas’ atau ‘mbak’ — tidak peduli umurnya. Mungkin maksudnya untuk tetap menjaga unggah-ungguh dari yang (jatuhnya) muda ke yang (jatuhnya) lebih tua.
Ini yang bikin aku sudah jadi ‘bulik’ sejak lahir, dan harus rela dipanggil ‘embah’ selagi aku masih kuliah. Karena anak dari anak bungsu mbaknya bapakku seumuran dengan aku. Dan sudah punya anak ketika aku masih kuliah.
Jadi… bapakku punya embak, yaitu budhe-ku… budhe-ku itu punya anak, yang memanggil bapakku ‘om’.
Dan aku memanggil anak budhe-ku itu, mbak. Karenanya, anak dari anaknya budhe itu harus memanggilku ‘bulik’
Kyaaaaa….. pusing kan?
Memang ngga terlalu pusing kalau kita udah ngikutin dari awal asal-usulnya bagaimana. Yang bingung ketika aku menikah dengan suami yang notabene masih sewilayah sekitar Solo juga. Kekerabatan di keluarganya masih sangat erat, dijaga, dan diurutkan benar-benar. Semua orang memperkenalkan diri dengan sebutan apa yang harus aku pakai kepada mereka.
“Aku bulikmu… soale aku adiknya itu, yang dia itu anaknya mbah anu yang masih sepupu dari mbah anu…”
Alaaaaah…
Trus bagaimana kalau orang yang hitungan urutan begitu harus kupanggil ‘mbak’ menikah dengan orang yang harus kupanggil ‘pak lik?’ Ada lho! Akhirnya aku ngawur aja. Yang kelihatannya agak tua ya dipanggil ‘lik’ atau ‘pakdhe’ atau mbah sekalian. ang masih muda dipanggil ‘mbak’ atau ‘mas. Salah biarin. Kalau diingetin ketawa aja.
Sekarang, embah-embah masih mengajari anak-anakku untuk memanggil ‘mas’ kepada anak-anak mbak-mbakku. Tapi kok ya susah, wong yang harus dipanggil ‘mas’ itu umurnya lebih muda. Dulu aku manut aja diarahkan begitu meskipun kalo dipikir-pikir aneh. Tapi anak-anakku ngga mau. Ya sudahlah…
Aku sendiri ngga keberatan kalau yang lebih muda memanggil nama saja. Malah serasa seumuran, jadi serasa lebih muda ![]()
Tapi aku juga kadang memanggil teman yang usianya sedikit lebih tua dengan nama saja. Rasanya lebih akrab. Meskipun ada yang justru aku panggil ‘om’ atau ‘budhe’…
Jadi… ya santai aja, ga usah dibikin ribet.
enak jadi orang indonesia
jadi gimana mbah? masih puasa ndak hari ini? *sodorin susur*
yang enak memang egaliter, tapi karena dah kebiasaan malah ga enak kalo manggil yang lebih tua cuma nama aja
lain ladang lain belalang, lain tempat lin adatnya
saya gpp kok dipanggil om
kaak pengganti, mas ya ?
*halah mbulet iki*
Banyak orang yang masih “mbasakne” atau “mernahne” pada anak-anaknya atau famili-familinya. Itu semata hanya untuk menjaga garis keturunan dan kalau bisa untuk menghindari incest. Jadi diharapkan dengan cara ini tidak ada pernikahan sedarah atau pernikahan antar saudara yang disebut “dadung kepuntir” dalam bahasa Jawa.