matanya berkaca-kaca menggenggam tanganku…
Nov 10th, 2008 by La
“anakmu berapa ndhuk?”
“tiga,budhe..”
“katanya ada yang kembar?”
aku mengangguk, dia memeluk.
aku telah menemukan yang kucari. tapi aku ragu apakah aku masih ingin menemui.
“dan dia, berapa anaknya budhe?”
dia menggeleng, “dia belum menikah, ndhuk. sudah dilangkahi adiknya, tapi dia masih belum mau juga. aku ndak tahu dia nunggu apa..”
aku telungkup di pangkuannya. perempuan setengah baya yang sudah lebih dari tujuh tahun tak kusapa. perempuan yang pernah menjadi tempat aku berlari ketika tak ada siapa-siapa. yang menyuapiku dengan nasi thiwul gurih asin. atau mendongengiku tentang ‘jakarta’. sambil dia menyibak-sibak rambutku mencari kutu. membuatku aku terkantuk-kantuk di pangkuannya, di bawah teduhnya pohon jambu.
air matanya menetes menjatuhiku, sedang milikku membasahi pangkuannya.
“aku senang melihatmu bahagia ndhuk. doakan kakangmu itu…”
“sampaikan salamku padanya, budhe. aku minta maaf, kali ini aku tidak cukup waktu untuk menemuinya”
sedang sesungguhnya aku tahu aku tak akan sanggup. aku takut dia tidak akan mau menemuiku, seperti dia tidak mau hadir di pernikahanku… entahlah, aku juga tidak yakin aku akan cukup kuat melihatnya. seperti beberapa tahun yang lalu ketika aku bergetar melihat tubuh pendeknya memikul tabung gas di kios di pasar kulon…
apakah aku telah menjadi sombong? apakah dia menjadi rendah diri? sialan, kenapa harus tercipta jurang ini?
karena semua hal telah menjadi berbeda. karena masa telah mengubah manusia, juga kami berdua. betapa aku ingin bersikap biasa saja, seperti anak-anak yang berteman tanpa prasangka. tapi jangan tanya, aku tak yakin aku bisa…
padahal dulu mungkin kita berpikiran tak akan ada yang bisa memisahkan kita, seiring waktu berlalu ternyata banyak hal yang bisa memisahkan kita
‘kenapa harus tercipta jurang ini?’
uni juga ga tau kenapa, hehe…
tapi bukankah bisa dinangun sebuah jembatan indah di atas jurang itu? ^_ ^
hilangkan prasangka
ulurkan tanganmu
jabat tangannya
tuk hilangkan luka lama
gak mau nanya ah, mau mbaca dongeng nya aja, cerita kali ini cukup membuatku berhenti sejenak
mau gimana lagi…
people do change…
wew.. mantab!!
@iway: dulu masih anak-anak, benar-benar tanpa prasangka dan ewuh pekewuh. usia memenjara…
@uni: laksana membangun jembatan california uni, susah!
@mike: I might have to try..
@yella: lebih enak dengerin dongeng budhe tentang ‘jakarta’ la..
@natazya: kadang aku sebel, masak aku mau diam saja?
@sofian: multir**f kali… !
aku takut…
hidup memang terus mengalir..
dan perubahan itu pasti.
mengenai jurang, kita dapat membangunnya jembatan untuk melewati itu..
karena ada keinginannya belum sempat tergapai
namun kesempurnaan hanya milik sang kuasa
kita berhenti sejenak karena disana ada jurang yang menghalang dan tak berapa lama easy membangun jembatan itu sehingga kita dapat melewati jurang itu dan menggapai bintang………………
coba tuk hilangkan prasangka itu
karena pertemanan tak mengenal prasangka
perbedaan kadang tak bisa dielakkan…
hanya terasa atau tidak akan tergantung bagaimana kita menyikapinya…
kadang memang susah untuk menerima kenyataan…tapi mau gmn lagi? membaca saja sulit
IIIIII seraM….