beban nikmat menjadi (memiliki) anak kembar
Jun 14th, 2008 by latree
terlahir (melahirkan) anak kembarÂ
nama yang hanya berbeda huruf pertamanya saja. aku tidak mau menyebutnya kesalahan, apa lagi menyesalinya. but next aku selalu mengusahakan segala sesuatunya berbeda.
tidak ada baju yang benar-benar persis sama. kelas yang berbeda (walaupun masih di sekolah yang sama). membiarkan anak memilih sendiri — kalau ternyata pilihan mereka sama, ya ga masalah. bahkan anak yang tidak kembar, bukan saudara, atau yang tidak kenal sama sekali pun bisa mempunyai pilihan yang sama. but overall, mereka berbeda.
masalahnya, lingkungan lebih melihat ‘kembar’ sebagai satu kesatuan. mungkin juga bukan maksud mereka, tapi karena bener-bener ga bisa bedain ini siapa itu siapa, sehingga sering salah panggil (sehingga yang ‘disalahpanggili’ pun lama-lama frustasi), dan akhirnya memilih memanggil keduanya dengan ‘mbar’ yang dijamin pasti bener… ya gimana lagi.
kesalahan #1, adalah membiasakan memberi keduanya, atau tidak sama sekali. ex: ketika main ke rumah tetangga, ada mainan yang kata si empunya “boleh buat adik”. wait, adik yang mana? adiknya ada dua. kasih dua-duanya atau tidak sama sekali. hanya karena aku males menanggung ‘heboh’ yang terjadi bila hanya salah satu yang diberi.
efeknya adalah ketika ada lomba di sekolah, si A menang dan dapat hadiah, sedang si IÂ tidak. sedihnya bukan main. padahal seandainya yang dapat hadiah itu orang lain, I tidak akan masalah. perjuangan berat memberi pengertian kepada seorang anak 4 tahun untuk menerima kenyataan (yang baginya mungkin sangat) pahit.
aku tahu bahwa meskipun kembar, mereka adalah dua pribadi unik yang berbeda. dan begitulah aku selalu berusaha memperlakukan mereka. tapi sungguh, tidak bisa dipungkiri ‘ikatan’ yang ada di antara keduanya sungguh istimewa. yang satu sakit, yang lain akan (paling tidak merasakan) sakit juga. yang satu menangis, yang lain tampak ikut menderita. dan selain dunia yang mereka punya bersama orang-orang di sekitar mereka, mereka seolah punya dunia yang hanya milik mereka berdua….
aku melihat banyak (kenal beberapa)Â pasangan kembar yang sampai dewasa tetap berseragam. itu pilihan mereka, tapi sebagian besar lebih karena bentukan orang tua yang sejak mereka kecil membiasakannya begitu. aku berusaha menghindarinya. membangun anak menjadi diri sendiri, membebaskan diri dari bayangan kembaran. mengajarkan kenyataan bahwa mereka memang kembar, tapi bukan berarti harus kembar dalam segala hal.
psikolog boleh berkata ini-itu. tapi aku hanya akan bilang ‘ah, teori’. karena kenyataannya tak semudah itu, sama sekali. aku hanya terus berusaha memberi yang terbaik buat mereka.
pertamax… test komen
pernah salah peluk ga?
untuk apa? setiap anak perlu perlakuan sendiri-sendiri, hatta dia kembar atau tidak. teori2 yang sudah ada bisa lah, buat referensi, tapi tetep diluk-luk disesuaikan kebutuhan masing-masing anak. gitu aja…
lima? ga seratus sekalian seperti kurawa? hahahaha… pasti aku peluk ciumin mereka buatmu…
emang kl kembar cewek kenapa?
ikutan cium dong
gak pernah punya pengalaman dg yg kembar-kembar..
kayanya itu alami ya, kembarku baru bbrp hari sekolah aja udah praktekin begitu lho!
aku dulu juga maunya gitu, sayang kita ga wenang milih. semua yang diberikan adalah yang terbaik buat kita, tul ga?
waktu istriku hamil anak pertama pengen banget punya anak kembar langsung 3 atau 4 gitu, biar sekalian repot dan istriku ga bolak-balik hamil tapi ga kesampaian, gpp juga sih soale satu aja dah lumayan repot