kau buka pintu dan kau biarkan aku masuk (tamat)
May 29th, 2008 by latree
lanjutan dari yang iniÂ
yang ingin baca versi utuh ‘inggris maksa’nya di siniÂ
Kentang di hadapanku telah habis entah ke mana. Aku sama sekali tidak merasa kenyang memakannya.
Aku berdiri membereskan piringku. Kutarik piringmu dan kubawa ke wastafel. Kucuci. Kukeringkan, dan kukembalikan ke rak. Aku ambil sebotol air putih dari kulkas dan membawanya bersama dua gelas kosong ke meja tempat kau masih terdiam di sana. Kutuang untukmu, dan untukku.
“Kau menyesal datang kemari?â€, kau seperti bisa menebak pikiranku.
“Apa yang membuatmu berpikir begitu? Sama sekali tidak. Aku senang datang kemari. Bertemu denganmu. Melihatmu memasak. Mengobrol…â€
“Omong kosong. Kita sama sekali tidak bisa menikmati pertemuan ini. Rin, aku… ini… tidak nyaman untukkuâ€
“Kau benar, Tom. Ini menyiksakuâ€.
Perlahan kau raih tanganku. Kali ini kubiarkan. Juga ketika kau mengecupnya, aku tak berbuat apa-apa, toh sesaat akhirnya kau lepaskan juga.
“Aku masih mencintaimu, Rinâ€
Aku menunduk. Mempermainkan jari tanganku, mengetuk-ngetuk gelas.
“Kau berharap aku menjawab apa?â€
“Tak usah kau jawab. Aku sudah tahuâ€
“Kau jangan sok tahuâ€
“Aku tahu. Kita berdua tahu. Dan kita juga tahu itu tak bolehâ€Gelasku sudah kosong.
“Well. Makan malamnya sudah selesai. Sekarang apa?â€, tanyaku.
“Tinggalkan aku…â€
Aku terdiam. Memejamkan mata. Hatiku perih terasa diiris-iris. Ini sama sekali bukan yang kuharapkan ketika aku berangkat ke sini. Kepedihan ini. Kepedihan yang ditimbulkan oleh kebahagiaan dan mimpi yang tak teraih. Tak kusangka kita berdua tak sanggup menghadapinya. Bahkan kau yang selalu terdengar tegar dan menguasai diri, hancur oleh kenyataan ini. Kau benar, Tom. Seharusnya aku tidak kemari.
Aku berdiri, memandangmu yang masih tak mau memandangku. Hanya terpaku pada gelasmu. Aku melangkah ke pintu keluar. Berharap kau katakan sesuatu. Tapi kau tetap begitu. Bahkan ketika kubuka pintu dan siap melangkah keluar. Kau tetap begitu.
Aku berharap sekali lagi kau memintaku untuk tinggal, karena jika kau lakukan lagi, aku berjanji akan tinggal. Katakan, Tom. Katakan… Tapi kau tetap menunduk dan terdiam. Aku menunggu, dan kau tetap diam.
Dan kulangkahkan kaki keluar apartemenmu. Kututup pintu. Aku tidak langsung pergi. Aku tak bisa. Badan ini begitu tak berdaya. Hati ini hancur berkeping. Aku bersandar di pintumu, membiarkan tangisku pecah membanjiri wajahku. Sungguh aku berharap kau mendengarku, keluar dan meraihku dalam pelukmu. Namun bisa kubayangkan kau di dalam sedang merasakan yang sama. Menderita dan hancur karena semua ini. Dan tak satu pun di antara kita sanggup menanggungnya. Betapa bodohnya aku mengira, bahwa dengan bertemu akan menyelesaikan masalahnya.
Sekuat tenaga kuseret langkahku menjauhimu. Dan kukatakan pada hatiku untuk menjauh dari hatimu. Tak peduli betapa sulitnya. Tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkannya. Tak ada gunanya menyimpan secuil pun kenangan, yang akan membawa kembali kenangan-kenangan lainnya, dan menghancurkan kita karena tak bisa memiliki seutuhnya. Ingin kusalahkan orang tuaku yang telah menjodohkan aku, tapi aku tak mampu. Ingin kusalahkan kau yang tak membawaku lari saat itu juga, tapi aku tak bisa.
Malam berkabut. Hatiku juga. Aku pergi, dan kau boleh yakin aku berjanji, aku tak akan kembali.
terkait:
kau buka pintu dan kau biarkan aku masuk (1)
kau buka piintu dan kau biarkan aku masuk (2)
yakin perempuan itu tidak kembali? yakin???
yakin. soalnya udah ‘tamat’
setahu saya,..
biasanya ada terming
2 minggu
3 bulan
6 bulan
1 tahun
2 tahun
..
yah kira2 tak berakhir sampai ada pria / wanita lain :p
emange wiro sableng?
mestinya kunci apartemen di kembalikan…
* hukum tak tertulis
terima kasih sudah membaca