kau buka pintu dan kau biarkan aku masuk (2)
May 28th, 2008 by La
lanjutan dari yang ini
Untuk sesaat aku terpaku, apa yang kauharapkan kukatakan? Tapi cepat-cepat kutarik tanganku.
Detik selanjutnya aku menyibukkan diri membuka-buka rak mencari piring. Ya, tentu akan lebih mudah bagiku bertanya padamu. Dan tanganku yang gemetar membuatnya lebih sulit lagi, seluruh tubuhku bergetar… Tapi kubiarkan kau diam menunduk bertelekan tangan di meja. Begini akan lebih baik.
Ini dia, dan hati-hati kukeluarkan kentangnya.
“Bisakah kau bukakan foilnya, ini panas sekaliâ€, pintaku hampir tak terdengar, karena aku masih gemetar.
Tanpa bicara kau bawa piringnya ke meja makan dan mulai membuka foilnya.
“Aku akan buat chili-nya. Harusnya tadi sambil menunggu kentangnya dipanggang, entah apa yang ada di kepalaku tadiâ€, kau meninggalkan aku sendiri di meja, lalu berkutat dengan chili-mu, yang kau bawa kembali sesaat kemudian.
“Coba icipi,†kau angsurkan sendok berlumur saus merah padaku.
“Kelihatannya pedasâ€.
Tidak terlalu ternyata.
“Aku minta maafâ€, katamu sambil mulai makan.
“Untuk apa?â€
“Yang barusanâ€
“Tidak perluâ€
“Aku tak tahu apa yang melintas di kepalakuâ€
“Aku mengertiâ€
Dan kita melanjutkan makan dalam diam. Oh Tuhan, ini sungguh menyiksa. Aku bukan datang ke sini untuk begini. Aku sudah mempersiapkan diri untuk percakapan paling hangat yang akan pernah ada. Aku sudah menyiapkan canda, tawa. Dan semua itu lenyap begitu saja ketika kita akhirnya bertatap muka.
Gemuruh di dadaku terlalu kuat untuk kuredam. Menenggelamkan semua yang sudah kupersiapkan. Kentang di hadapanku sama sekali tak bisa kurasakan, tapi tetap kukatakan, “Enakâ€
“Siapa pun yang bikin rasanya akan sama. Ini sama sekali tidak butuh keahlianâ€, jawabmu datar.
Sama sekali bukan dirimu. Kau suka bicara detil, berapa menit harus di dalam microwave, bagaimana membungkusnya, hal-hal seperti itu… Ah, aku sungguh tak tahu apa yang kau rasakan. Apa yang kaupikirkan. Aku meraba betapa kita berdua sama-sama dimabuk rindu berkepanjangan. Yang meledak-ledak menunggu terlampiaskan. Tapi di saat yang sama kita tahu kita tak boleh lakukan. Karena kita telah berjanji untuk tidak pergi ke sana. Aku yang minta, dan kau mengiyakannya. Aku pikir aku akan dengan mudah menghadapinya. Tapi ternyata tidak sama sekali.
Tiba-tiba aku menyesal telah datang ke sini. Aku tak sanggup menanggung kebahagiaan yang terlalu berlimpah ini. Aku akan tenggelam di dalamnya… aku akan tenggelam…
“Rin…†kau membuyarkan lamunanku.
“Uh. Ya, Tom?â€
“Kau baik-baik saja?â€
“Uhmm.. ya.. kurasaâ€
“Kau seperti tidak sedang di siniâ€
“Apa maksudmu? Aku di sini, badan dan pikirankuâ€, aku tidak berbohong.
“Tapi sejujurnyaâ€, lanjutku, “aku berharap aku berada di lain waktu dan tempatâ€
“Kenapa?â€
“Aku takut melanggar janji, Tomâ€
“Aku hampir melakukannya, maafâ€, kau menunduk, diam lagi. Diam lagi. Diam lagi.
Diam lagi.
terkaitem>:
kau buka pintu dan kau biarkan aku masuk (1)
kau buka pintu dan kau biarkan aku masuk (tamat)
*melet juga*
degdegan (pakai melet) sama gak ama dagdigdug (pakai mesem) ya?
hajar! maksudku lanjutannya. ayo hajar aja