yanti tuku gethuk yanto njaluk
njaluk ora entuk dithuthuk beruk
*sadis juga, dithuthuk beruk pasti sakit…*
aku ngga tahu apakah tembang jaman cilikanku itu ada maknanya. karena ‘gundul-gundul pacul’ yang bagiku lagu lucu itu ternyata diciptakan untuk mengejek tentara jepang yang kalah setelah serangan sekutu di pearl harbour
*mudah-mudahan ingatanku soal ini tidak keliru mengingat ‘sejarah’ bukan mata pelajaran favoritku*
yang aku tahu lagu itu dipakai buat mengolok-olok teman (duh kok tega ya) yang ndilalah punya pasangan ‘nama’. orang jawa jaman dulu kalau memberi nama kan sederhana, kalau laki-laki ‘parto’ ya perempuannya ‘parti’. makanya tembang di atas bisa saja diganti ‘janti-janto’, ‘parni-parno’, ‘prapti-prapto’. ada lagi?
apa hubungannya dengan salaman petruk?
kebayangnya sih kitiran yang dipasangi boneka petruk dan gareng lagi salaman itu. wal hasil jika kitiran muter karena tertiup angin, maka petruk dan gareng akan salaman dengan saling gantian membungkukkan badan.
*jenius banget penemu kitiran ini ya…*
aku membayangkan sebuah keisengan, jika tangan petruk dan gareng tidak dipasang menyatu seperti itu, tapi agak berjauhan. kalau kitiran itu nanti berputar maka keduanya hanya akan saling membungkuk dan memaju-mundurkan tangan —– tidak jadi salaman.
ya seperti orang sunda dan orang solo salaman. orang solo salaman dulu baru menangkupkan tangan di dada, orang sunda sebaliknya. jika mereka memulai salaman pada hitungan yang sama dan dengan kecepatan yang sama pula, sampai kiamat mereka tidak akan pernah berhasil mempertemukan ujung jari satu sama lain…
***
ada satu hal yang aku ingin terjadi seperti salaman petruk. atau seperti salaman orang solo dan orang sunda itu. aku tidak ingin menggeser waktu gerak salah satunya setengah hitungan.
lebih baik begitu, seling surup sampai akhir waktu…
